Wednesday, March 25, 2009

A lil girl (eps. 2)

Gadis itu masih terhanyut dalam kesedihannya, kini dia merasa bahwa hidupnya memang ditakdirkan untuk sendiri..

Ia mencoba bangkit, tapi sia sia. Kakinya terasa pilu sepilu hatinya..

Dan..

Uluran sepasang tangan mengarah ke pundaknya, membantunya berdiri, mengusap air mata yang tiada terhenti, membersihkan debu yang menempel pada gaunnya yang putih..


Siapa dia?
My hero..
Pahlawan baginya..
Entah hal indah apalagi yang dipikirkan tentang lelaki dihadapannya, yang sedang membantunya meruntuhkan sakit dan peluh di dadanya..

Ia bahagia..

Lalaki itu datang tepat waktunya, saat ia dilanda berbagi pertanyaan dan kerinduan yang tiada terjawab..
Lelaki itu datang membantunya bak seorang pahlawan yang datang tanpa ia minta..

Waktu baginya serasa sempit, ia menghabiskan waktu dengan pahlawannya.. Merengek manja layaknya anak kecil yang ingin disayang..
Ia Bermain, bercanda, dan belajar sesuatu yang baru dengan pahlawannya..

Ia kagum padanya..

Gadis kecil itu tak mau lepas dari pahlawan disampingnya, ia ingin terus bersama..

Tapi ia takut..

Ia tau ada yang membelenggu hatinya..

Ia tak ingin jauh dengan kekagumannya, ia mempunyai perasaan yang tidak ingin dibuangnya.. Tapi ia harus membuangnya..
Karena pahlawan hanyalah pahlawan..

Ia pun mengingat belaian pahlawan itu sambil berdongeng padanya.. Dongeng kecil untuk adik kesayangannya..

Ia menunduk..
Ia pun sadar..
Perasaan yang membelenggunya akan tetap membelenggu..
Ia mulai memahami sesuatu yang sering ia dengar dari burung, angin, dan ilalang tentang cinta..


Bahwa cinta itu indah..
Bahwa cinta itu menyakitkan..
Bahwa cinta itu tulus..
Bahwa cinta itu berkorban..
Bahwa cinta itu tidak harus memiliki..

Ia menangis, ia bertanya pada dirinya "cintaku cinta yang mana?dan apakah aku jatuh cinta?apa aku punya cinta?"

Pahlawan kesayangannya pun datang memeluknya..
Pelukan lembut yang dirasa untuk adik kecilnya..

Ah..

Ia semakin menangis..

Ia beranikan bercerita padanya tentang kabar cinta pada makhluk dihadapannya..
Dan ia tetap menangis..

Pahlawan itu mencoba menghapus air mata yang mengalir terus dari air mata gadis kecil itu. Ia pun menceritakan kisah yang mengharuskan gadis itu berhenti membelenggu dirinya sendiri dari perasaan yang tidak akan sama dengan pahlawannya itu..

Dan seperti sebelumnya..

Gadis itu menurut, memahami apa yang dirasakan pahlawannya..

Ia pergi..

Ia memutuskan pergi dari khayalan itu..

Ia memutuskan untuk berjalan lagi..

Ia memutuskan untuk mencari kebebasan yang sempat terhenti..

Ia memutuskan untuk tak mengenal letih..

Dan tangis itu pecah..

Mereka menangis..

Ternyata pahlawannya bisa menangis seperti dirinya.. Ternyata pahlawannya rapuh..
Ternyata pahlawannya adalah manusia seperti dirinya..

Tapi ia harus pergi..
Dan pahlawannya melepas kepergiannya..

Gadis itu berjalan menjauh dari pekarangan yang hampir indah..

Ia tersenyum..

"Mungkin ini saatnya aku pergi mencari bunga indah di taman kecil di sebrang sana,biar bunga bunga menghiburku.."

Ia menghapus tetes airmata terakhirnya..

Kali ini ia berjalan dengan hati yang berbeda.. Hati yang pernah rapuh merindukan kasih sayang, tapi tidak rapuh kehilangan kasih sayang itu..

Ia berlari kecil..
Berharap bukan batu atau kerikil menjatuhkannya lagi..


(Bersambung..)

1 comment:

  1. Anonymous2:56 AM

    Foto gadis kecilnya diposting jg dunk. Gadis kecil itu yang pic-nya lagi pegang aer mancur ya?
    Btw, tell Rizma; Tuhannya udah ketemu blom?

    ReplyDelete