Gemericik dari mata air menarik perhatiannya, ia membasahi mukanya yg pucat dengan air dingin itu.. Seutas kebahagiaan muncul dari matanya..
Tak lama, suara burung mengganggu keasyikannya.. Burung itu terbang, ia mengejar.. Tak peduli akan lelah kaki yang tak sanggup berdiri, tak peduli akan keringat yang mulai mengucur tiada henti, baginya.. Burung itu terlalu indah dilewatkan..
Gadis kecil yang lugu.. Ia semakin jauh dari tempat ia berpijak.. Tapi tak ada yang dipikirkannya, karena dimanapun ia berpijak.. Tak ada makhluk yang bisa menahannya. Ia hanya tau bahwa ia hidup, tapi ia bukan milik siapa siapa.. Ia bebas menentukan arahnya, sesuai kehendak hatinya..
Burung itu menawarkan keindahan akan kebebasan lain yang belum ia punya.. Terbang.. Bebas.. Memandang dunia dari kepakan sayapnya yang indah..
Ia pun terhenti.. Burung itu hinggap pada sangkar sederhananya.. Bertemu dengan burung indah yang lebih cantik..
Bukannya bahagia karena perjalanannya terhenti, bukannya bahagia karena membiarkan kakinya berhenti, tapi ia menangis..
Air mata itu menetes peluh membasahi pipinya.. Ia rindu..
Rindu pada kehangatan kasih sayang, ia rindu untuk berteduh demi rasa aman, ia rindu akan indahnya penerimaan..
Ia tertegun.. Dan jatuh tersungkur..
Ia menangis.. Tak berhenti..
Ia pun merasakan lelah..
Lelah memaknai , lelah berlari, lelah mencari sesuatu yang belum ia temukan..
(bersambung)







No comments:
Post a Comment