Qis sich tidak menolak tentang poligami, atau menyetujui lelaki berpoligami. Yang jelas orang orang tersebut mempunyai alasan yang kuat dan mempunyai dasar yang kuat untuk menjalani dua perkawinan dalam satu rumah tangga.
Setelah mendengar pengalaman dan cerita seseorang tentang pengalamannya mempunyai istri kedua, hal yang terpikir oleh Qis waktu itu adalah "bagaimana kalau Qis jadi istri kedua??" Sungguh tak pernah terbayangkan, tapi pertanyaan itu menjadi topik yang muncul di otak Qis saat ini. "Bagaimana rasanya? Bagaimana tanggapan orang? atau bagaimana menjalani sebuah pernikahan dengan membaginya dengan orang lain?"
Lalu muncul lagi pertanyaan, "Bagaimana dengan istri pertamanya? Bagaimana si suami membagi tanggung jawabnya terhadap dua istri? Bagaimana si suami bersikap adil?"
Atau mungkin membayangkan jika Qis menjadi istri pertama dan suami Qis kelak ditakdirkan mempunyai istri selain Qis. Kembali terlintas di pikiran Qis, "Siapkah? Ikhlaskah? Cemburu kah?"
Sepertinya menakutkan untuk sekedar membayangkannya.
Perjalanan pulang sore ini jadi semakin tidak karu karuan. Namun, sebuah kesadaran muncul di benak Qis, "Jika memang Qis ditakdirkan menjadi istri kedua, atau Qis ditakdirkan memiliki suami yang tidak menjadikan Qis satu satunya istri, maka itulah memang yang terbaik yang diberikan Allah untuk Qis. Selalu ada alasan, selalu ada yang terbaik yang Allah takdirkan bagi hambanya. Tapi Qis berdoa, agar Allah menjadikan Qis sebagai seorang istri tunggal dalam hidup suami Qis kelak. Amin..."
Bismillah...
Allah selalu mendengar doa hamba hambaNya...







Amin..
ReplyDeleteYang terbaik aja buat Qis..
Amin juga ^-^
ReplyDelete